PACAR (fiveteen minutes)

September 1, 2012 at 10:24 pm Leave a comment

“Cuma pengen share aja hasil corat-coret dikit, dibaca ya… jangan lupa kasi komen, ga usah banyak-banyak yang penting bagus he….”

“Don, serius nih lug a bakalan masuk?”
Aku menggelengkan kepala, ini adalah kali pertama aku ga masuk kelas seumur-umur aku sekolah, dan ini adalah kali pertama aku tak tertarik dengan pelajaran, dan ini adalah kali pertama hatiku terasa begitu berat terasa begitu sakit sampai-sampai aku tak mampu berdiri, aku hanya mematung merasakan angin pagi yang mulai terasa begitu panas.
“Don, lu ga apa-apakan?”
Aku mengangguk, saat sekarang ini aku sedang tidak baik, aku kehilangan kesadaran diri, aku kehilangan kontrol emosiku rasanya pikiran ini ingin membuncah keluar mengeluarkan semua kemarahan yang tak kumengerti kenapa, ya kenapa??
Mardi, satpam sekolah di buat bingung oleh tingkahku karena aku hanya mematung memandang gerbang sekolah, ketika tubuhku didudukkan di Pos Satpampun aku hanya pasrah sedang mataku tak lepas memandang gerbang.
“Hati gue sakit Di” kataku lambat
Ya.. ini kali pertama aku merasakan betapa hatiku sakit setelah sekian lama hatiku berada dalam pelangi kebahagiaan.
Pelangi itu namanya “Eva” dia hadir begitu saja, saat aku tak pernah tertarik dengan perhatian siapapun, sikapku yang tak pernah peduli dengan lingkungan sekeliling tiba-tiba mulai tertuju dengan matanya.
“Thanks ya”
Aku mengernyitkan dahi “untuk apa?” jawabku dingin
“Telah membantuku menghindar dari ketakutanku” jawabnya begitu renyah
Aku tak menjawab aku hanya menapaki trotoar dengan acuh
“Aku Eva, mmm namamu Doni kan?” di mengulurkan tangannya dan dia memotong langkahku, aku terhenti, aku hanya memandangnya sinis saat itu aku melihatnya begitu mengganggu.
Tiba-tiba tangan kecilnya itu meraih tanganku, kita bersalaman, ini pengalaman pertamaku berkenalan dengan wanita, bersalaman, semuanya bagiku serba aneh.
Hatiku berdetak kencang, suaranya sangat keras dan entahlah perasaan apa ini, kutarik tanganku dari pelukan tangan Eva, aku percepat langkahku ku usap dadaku rasanya jantung ini ingin keluar untuk mendengarkan detakkannya yang secepat langkahku saat meninggalkan Eva.
Malamnya aku tak lelap, hatiku masih tersisa detakkannya dan pikiranku tak bisa merelakannya untuk dilupakan, aku seperti orang bodoh.
“Hai, Doni” suaranya sudah tepat di Belakangku
Aku tak menjawab, perlahan aku mulai melangkahkan kakiku]
“Maaf, kemarin aku menakutimu ya? Kamu tahu sekolahku itu bersebrangan dengan sekolahmu, jadi setiap hari aku bisa melihatmu, dan mungkin kita bisa berteman”
Teman? Sejak kapan aku punya teman? Bagiku teman hanya orang-orang di kelas, di sekolah, orang tua, kakakku
“Kamu mau jadi temanku, Doni?” Tanya Eva menghentikan langkahku
“Kamu diam? Kalau kamu diam artinya kamu mau jadi temanku, kamu tahu ini sudah takdir bagiku menjadi temanmu dan mungkin suatu saat aku bisa menjadi teman baikmu”
“Takdir? Teman baik? Enggak aku ga mau jadi teman baikmu” jawabku dingin
Ya, orang bilang aku terlalu dingin sampai-sampai aku tak pernah mengerti tentang keadaan disekelilingku padahal aku hanya tak tau caranya untuk mengungkapkan semua perasaanku, aku hanya mampu melihat dan semua orang tidak tau betapa aku mengerti semua kebiasaan mereka, Ayah, Ibu, Kakakku, teman-temanku di Kelas bahkan Mardi Satpam sekolahpun aku tau dia.
“Kalau ga mau jadi teman baikku, kamu mau jadi pacarku?” tiba-tiba Eva mengejutkanku dengan pertanyaannya, aku hanya menelan ludah dan aku pergi meninggalkannya seperti biasa karena hatiku seakan melompat-lompat ingin keluar dari dadaku.
Sejak mengenal Eva, malamku mulai terganggu oleh ocehannya yang selalu menemaniku setiap pulang sekolah, mimpiku selalu hadir dengan wajahnya.
“Don, ngapain?” Mardi mengagetkanku, aku salah tingkah
“emmm enggak” jawabku gugup
“lu pasti nungguin sisiwi sebrang? Ya kan?” Mardi memasang muka detektif padaku
Aku pergi, meninggalkannya yang sedang cengar-cengir, setelah hampir 3 bulan, ini adalah kali kedua aku jalan sendiri di trotoar ini, rasanya sepi.
“Wah, di kelas ga ada Eva sepi, kenapa juga tu bocah musti sakit?” suara di belakangku mengagetkanku
“sakit?” tanyaku dalam hati, langkahku mulai aga pelan dan kubiarkan para siswi itu ada didepanku, aku menguping.. “Ya Tuhan” seru hatiku
“emang sakit apaan tu anak?”
“katanya sih panas?”
“Hah? Panas?”
“Emang dari mana dia?”
“Katanya sih, keujanan waktu nungguin temannya pulang”
“Teman? Teman yang mana? Sampai bela-belain gituh?”
Tek.. aku menghentikan langkah, hujan besar itu terjadi kemarin, dan hari kemarin aku pulang terlambat karena di kelas ada pelajaran tambahan dan sejak hari kemarin itulah aku tak bertemu Eva,
“ah.. Gadis bodoh itu ternyata menungguku, dasar bodoh” aku menarik napas panjang, rasa khawatir mulai menjangkitiku, aku sedikit aneh jika mengingatnya.
“Don, pacarmu nunggu tuh” kata Mardi menggodaku, aku membesarkan mata pada Mardi
“Iya, itu anak sebrang seperti biasanya”
Rasa lega menghampiri perasaanku, aku gembira, aku merasa aneh lagi, dan hatiku berdegup sangat kencang saat senyum itu tertuju padaku, dadaku ini kutahan dengan tangan karena rasanya seperti tersengat lebah, aku tak mengerti mungkin seperti ini rasanya jika hati mulai melenceng dari pengetahuan, mungkin ini yang namanya “cinta” ah aku tak mengerti
“Hai.. Don, kamu merindukanku tidak?” Tanya nya, aku tak mampu menjawab aku hanya menatapnya dingin
“ini” kataku, sambil mengeluarkan payung dari tasku, yup payung itu kubeli ketika tau dia kehujanan karena menungguku
“Payung?” tanyanya
“Ya, ini kan musim hujan” jawabku, padahal hari itu cuaca sangat cerah
“Dengan payung itu kamu bisa menungguku tanpa harus sakit panas” ah.. sit aku mengatakan apa
Eva hanya tersenyum, “jadi, kamu tak mau jadi temanku tapi kamu mau jadi pacarku?” tanyanya lagi
Aku meninggalkannya lagi seperti biasa, tapi kali ini aku tersenyum, entahlah karena apa tapi aku merasa sangat bahagia lebih bahagia di banding ketika aku mendapatkan nilah A di sekolah.
Sejak saat itu aku sepertinya menikmati ketika Eva memperkenalkanku pada teman-temanya sebagai pacarnya, padahal kami hanya bertemu sepulang sekolah dan berpisah seperti biasanya di perempatan jalan.
Tak terasa sudah hampir 2 tahun aku mengenal Eva, walau tak kurang dari 15 menit setiap hari aku berjalan dengannya aku sepertinya mulai terasa terlengkapi dengan hadirnya Eva. Dia terasa begitu special bagiku, dulu aku tak pernah menyukai saat pelajaran harus usai tapi kini aku sangat menunggu waktu belajar usai.
Seperti biasanya Eva, sudah ada di depan gerbang, aku berjalan menuju arahnya dan dia tersenyum ah aku tak pernah bosan melihat senyumnya itu, tapi kali ini Eva terdiam dan 15 menit itu hampir berlalu tapi aku tak mendengar suaranya. Aku menghentikan langkah.
“kenapa?” tanyaku
“hm” jawab Eva
“Kenapa terdiam?”
“Enggak”
“Kamu aneh” kataku lagi
“Aneh?” Eva menjawab dengan nada suara berat
“Yang aneh itu kamu Don, sudah lebih dari 2 tahun ini aku berjalan di trotoar ini denganmu, tapi kamu tak pernah bicara padaku, kamu hanya menganggukkan kepala, menggelengkan kepala bahkan kamu tak pernah melihatku padahal aku selalu melihatmu”
“Eva” jawabku, entahlah aku tak punya jawaban
“Cukup Don” lanjut Eva, hatiku terhenyak, rasanya seperti shock terkena setruman
“Kamu tahu selama 2 tahun ini aku sudah membuang waktuku percuma hanya untuk menyukaimu, Besok aku mungkin tidak akan menunggumu lagi, tapi aku tahu kamu tak akan peduli, sudah cukup sampai disini Don”
Untuk pertamakalinya Eva pergi meninggalkanku, aku bisa melihat punggungnya terisak, dia menangis dan tak terasa air mataku jatuh dari mataku, arrrggh hatiku sakiiiiiiit sekali. Aku memandang Eva sampai ia hilang dari pandangan mata.
****
Pagi ini, seperti biasa kupandangi Eva yang celingukan melihat kanan kiri untuk menyebrang, aku menyukai saat wajahnya mulai mengerenyut melihat kesempatan saat kendaraan mulai kosong tapi kesenanganku itu tiba-tiba terganggu saat seorang siswa menghampiri Eva
“Yu, saya bantu” katanya
“oh… terimakasih” jawab Eva kebingungan
“Axel, sekolah kita bersebrangan” katanya mengulurkan tangan, mmmm… hatiku sakit aku mau pergi tapi kakiku tak bisa kulangkahkan, tanganku menahan beban dihatiku.
“hm.. Eva” jawab Eva, sambil berlalu meninggalkan Axel
Seminggu sudah, Axel selalu menunggu Eva pagi, siang, hatiku tak mampu berkata apa-apa, aku memang aneh kenapa aku tidak bertindak.. aku tak mengerti..
Setiap pulang sekolah, kita selalu pulang bersama karena saat ini aku yang menunggu Eva, walaupun kita bersebrangan tapi aku melihatmu, Va..
Katamu kamu selalu melihatku, sekarang aku yang melihatmu, entah apa hubunganmu dengan axel tapi suara tawamu senantiasa renyah menghiasi kesakitan hatiku di sebrang jalan, aku hanya mampu melihatmu tertawa padahal tawa itu dulu adalah denganku bukan dengan Axel, hatiku sedih tapi aku tak mau beranjak, aku tetap mau melihatmu tersenyum aku tak perduli dengan siapa kamu tersenyum, karena senyummu itu seperti cahaya bagiku..
Saat ini aku begitu yakin, kalo aku begitu mencintaimu Eva…
“Don, kalo seperti ini kayanya gua ga percaya kalo lo siswa paling pinter di sekolah ini, kayanya lebih pantes kalo lo jadi siswa paling bego” Mardi mencelaku, dan membuatku kaget aku terbangun dari semua memoriku tentang Eva.
“Maksud lo?” jawabku sinis
“Nih, buktinya, pacaran 2 tahun ketemuan Cuma pulang sekolah itupun hanya 15 menit, pacaran apaan tuh.. yang namanya orang pacaran tuh Don memberi, menjaga ya seperti gua yang selalu menjaga sekolah ini, ya ga jauh lah..” Mardi coba berfilsuf
“gua mau pulang Di, lu ijinkan ke kelas ya”
Mardi mengangguk.
***
Makan malam ini terasa hambar, sehambar hatiku “duh ini perasaan ngeyel banget”
“prak” tiba-tiba sendok yang kupegang jatuh, Ibu melihatku aneh “kenapa Don?”
“mmm enggak Bu, Doni istirahat dulu” jawabku sambil berlalu dari hadapan Ibu
“Namanya Eva kan Don” tiba-tiba Ibu berteriak dan menghentikan langkahku yang hampir masuk kamar, aku berlari ke bawah
“Ko Ibu tahu?”
“Ya tau lah, 2 tahun yang lalu kamu pernah nolong seorang laki-laki yang tabrak lari kan?”
Aku mengernyutkan kening mencoba mengingat masa itu
“Nah, seminggu setelah kejadian itu anak perempuannya si Bapa itu datang kesini bermaksud mengucapkan terima kasih, tapi sayang kamu gak mau bertemu dengan dia alasannya yak arena sibuk belajar”
Pikiranku semakin kuat berusaha untuk mengingatnya “ah aku lupa Ma”
“Dia bilang nyawa ayahnya begitu berharga, dan dia meminta agar mama membuat satu permintaan untukk dia laksanakan”
“terus” Doni penasaran
“Lalu Mama minta agar dia mau berteman dengan mu, karena Mama bilang putra Mama yang satu ini seperti gunung es, dingin, tak punya perasaan, egois dan pemalu”
Doni mengerlingkan mata dan mengangkat mulutnya “mammmaaa”
“Dia menyanggupi permintaan Mama, katanya sekedar menjadi teman itu ga masalah baginya tapi bila perasaannya sudah melampaui batas maka dia akan mundur”
“melampaui batas?”
“Ya, dalam kata lain kalau dia jatuh cinta padamu maka dia akan mundur dan menjauhimu, dan sepertinya dia menyukaimu Don”
“kenapa harus begitu Ma?”
“Mama juga tidak tahu, tapi setelah itu Mama, Kakamu bahkan Ayahmu yang super sibuk itu senantiasa memantau perkembangan hubungan kalian”
“Artinya Ma?”
“Mama, Kakamu Dina, Ayahmu sangat bahagia ternyata ada juga gadis yang jatuh cinta padamu”
Aku memeluk mama erat, beban ini jatuh dalam pundak mama, aku tak berkata apa-apa tapi hatiku memberitahu Mama dari A sampai Z tentang perasaanku.
***
Langkah Eva sepertinya terburu, kali ini dia sendirian, aku berlari mengejarnya
“Stop, Eva” teriakku
Tanganku erat memegang tangannya yang meronta “berhenti, Va aku mohon”
“aku tak mau bertemu denganmu” jawab Eva, matanya berkaca
“kamu tak mau bertemu denganku, lalu kamu menemui axel? Begitu?”
Eva memandangku tajam
“Berhenti menemuinya Va, plis berhenti menyakitiku, aku tak sanggup melihat tawamu berbagi dengannya, aku tak rela ketika dia menyebrangkanmu setiap pagi, aku tak rela ketika 15 menit itu dia ada di sampingmu”
“itu bukan urusanmu Don” Eva menjawab dengan bergetar
“itu urusanku Va, karena hanya aku yang pantas melakukan itu”
“kamu keterlaluan” Eva mencoba berlari dariku tapi pegangan tanganku tak mungkin dilepaskan
“Ingat siapa yang memberikan status “pacar” padaku? lalu apa pantas ketika pacar itu kamu diamkan? lalu kamu malah asik berbagi cerita ketika waktu itu sebenarnya milik pacar?” aku berkata dengan terburu napas
“Tapi….”
“Tapi apa? apa pernah aku berjalan dengan wanita lain selain kamu? apa pernah aku tertawa dengan perempuan lain di sepanjang jalan ini” Aku memotong kalimat Eva
Siang ini perempatan jalan ini begitu terik tapi begitu lengang, seperti pandangan mataku yang begitu rindu dengan raut dan gurat wajah Eva yang menyenangkan, bola matanya yang kecil dan biasanya centil itu memandang wajahku seakan menyalahkanku.
“Aku memang bersalah, ketika kamu kebingungan untuk menyebrang setiap pagi aku bukannya mendekat memegang tanganmu lalu menyebrangkanmu, atau ketika aku pulang lebih dulu seharusnya aku yang berdiri digerbang sekolahmu dan menunggumu, tapi kamu tau setiap pagi aku pasti datang lebih pagi darimu aku berdiri di belakang gerbang hanya untuk melihatmu dan saat pulang sekolah lebih dulu maka aku akan duduk dibelakang pos satpam hanya untuk melihatmu menyebrang menungguku, aku selalu melihatmu Va”
Eva terisak, matanya mulai berkaca-kaca tangannya yang meronta perlahan menyerah
“Eva give that fiveteen minutes for me, than i’ll give you the whole of my life, Aku mencintaimu Va” akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku
Eva tidak menjawab, rontaan tangannya berhenti tubuhnya berbalik kearahku, mata kecilnya memandang wajahku seperti tak percaya “i’ll give you the whole of my life just to get that fiveteen minutes” kata Eva di sela isak tangisnya.
“Pacar?” seruku
Eva mengangguk “Pacar” .

Entry filed under: My Little Word.

Just a little thing….. My Lovely September

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


September 2012
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Recent Posts

Feeds


%d bloggers like this: